Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyakit menular utama di dunia, terutama di negara berkembang. Mikroba Mycobacterium tuberculosis menyerang jaringan paru-paru dan limfa, menyebabkan kerusakan histologis yang signifikan. Pada saat ini, strategi terapi yang hanya mengandalkan antibiotik menghadapi masalah resistensi obat.
Teripang (Holothuroidea) telah lama dipergunakan dalam pengobatan tradisional Asia Tenggara. Beberapa spesies, termasuk Phyllophorus sp., mengandung senyawa bioaktif seperti polisakarida, triterpenoid, dan peptida yang memiliki potensi imunomodulator.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan fraksi ekstrak teripang lokal Phyllophorus sp. sebagai imunostimulator pada model mencit (Mus musculus) yang diinfeksi M. tuberculosis, dengan fokus pada perubahan histologi limpa.
Metode Penelitian
Desain Eksperimen
Penelitian eksperimental dengan rancangan faktorial 2x3 ( infeksi vs tidak infeksi dosis fraksi teripang: 0, 50, 100mg/kg tubuh). Total 36 mencit jantan, umur 68 minggu.
Persiapan Fraksi Teripang
- Teripang Phyllophorus sp. diambil dari perairan pantai setempat, dibersihkan, dan dikeringkan.
- Ekstraksi dilakukan dengan pelarut etanol 70% pada suhu 40C selama 24jam.
- Filtrasi dan penguapan pelarut menghasilkan ekstrak kering yang selanjutnya dipartisi dengan kolom silika menjadi fraksi A (polisakarida), fraksi B (triterpenoid), dan fraksi C (peptida).
Infeksi M. tuberculosis
Strain H37Rv diinokulasi intranasal sebanyak 110 CFU dalam suspensi 0,05mL pada hari ke0.
Pemberian Dosis
Dosis fraksi teripang diberikan secara oral sekali sehari selama 30 hari, dimulai 3 hari setelah infeksi.
Pengambilan Sampel
Pada hari ke31, semua mencit dikorbankan. Limpa diangkat, diproses menjadi potongan 5m, kemudian diwarnai dengan HematoxylinEosin (HE) untuk penilaian morfologi, serta imunohistokimia untuk CD4 dan CD8.
Analisis Data
Parameter yang dinilai meliputi:
- Ukuran korteks limfa (mm)
- Jumlah folikel limfa aktif
- Keberadaan granuloma nekrotik
- Ekspresi CD4 dan CD8 (jumlah sel positif per bidang pandang)
Data dianalisis dengan ANOVA satu arah, diikuti uji Tukey (p<0,05 dianggap signifikan).
Hasil
Perubahan Morfologi Limpa
| Kelompok | Ukuran Korteks (mm) | Folikel Aktif | Granuloma (%) |
|---|---|---|---|
| Negatif (tidak infeksi) | 12,50,8 | 81 | 0 |
| Positif (infeksi, tanpa terapi) | 9,20,9 | 31 | 355 |
| Fraksi A 50mg/kg | 10,10,7 | 51 | 224 |
| Fraksi A 100mg/kg | 11,00,6 | 61 | 153 |
| Fraksi B 50mg/kg | 10,30,8 | 51 | 204 |
| Fraksi B 100mg/kg | 11,30,5 | 71 | 123 |
| Fraksi C 50mg/kg | 9,80,9 | 41 | 255 |
| Fraksi C 100mg/kg | 10,50,7 | 51 | 184 |
Ekspresi CD4 dan CD8
Peningkatan signifikan pada jumlah sel CD4 dan CD8 terlihat pada kelompok yang menerima fraksi B dosis tinggi (100mg/kg) dibandingkan kontrol infeksi (p<0,01). Fraksi A juga meningkatkan CD4, namun tidak sekuat fraksi B.
Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi ekstrak teripang Phyllophorus sp. memiliki efek imunostimulasi yang dapat mengurangi kerusakan histologis pada limpa mencit yang terinfeksi M. tuberculosis. Peningkatan ukuran korteks limfa dan jumlah folikel aktif menandakan perbaikan arsitektur limfoid.
Fraksi B (kandungan triterpenoid) pada dosis 100mg/kg memberikan hasil paling signifikan, baik dalam menurunkan persentase granuloma maupun meningkatkan populasi sel T helper (CD4) dan sitotif (CD8). Triterpenoid diketahui dapat memodulasi jalur NFB dan meningkatkan produksi cytokine IFN, yang penting dalam aktivasi makrofag melawan M. tuberculosis.
Fraksi A (polisakarida) juga meningkatkan respons seluler, sejalan dengan laporan bahwa polisakarida laut memiliki sifat adjuvan. Fraksi C (peptida) menunjukkan efek yang lebih lemah, mungkin karena konsentrasi bioaktif yang lebih rendah.
Limitasi studi meliputi penggunaan satu strain bakteri dan hanya satu tipe jaringan (limpa). Penelitian lanjutan perlu menilai efek pada paru-paru serta menguji kombinasi fraksi dengan regimen antiTB standar.
Kesimpulan
- Ekstrak teripang lokal Phyllophorus sp. memperbaiki histologi limpa pada mencit yang diinfeksi M. tuberculosis.
- Fraksi B (triterpenoid) pada dosis 100mg/kg menunjukkan imunostimulasi paling kuat, mengurangi granuloma dan meningkatkan sel CD4/CD8.
- Temuan ini membuka peluang pengembangan agen imunomodulator berbasis laut sebagai adjuvan terapi TB.
