*Salmonella Typhi* merupakan bakteri penyebab tifus, penyakit yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di banyak negara berkembang. Resistensi antibiotik yang semakin tinggi menuntut pencarian alternatif antimikroba yang aman, murah, dan dapat diproduksi secara berkelanjutan. Salah satu kandidat yang menarik adalah ekstrak cacing tanah (*Lumbricus spp.*). Cacing tanah mengandung protein, peptida antibakteri, enzim, serta bahan bioaktif lain yang telah terbukti memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai patogen, termasuk Staphylococcus aureus dan E. coli.
Penelitian in vitro menjadi langkah awal untuk menilai potensi ekstrak cacing tanah melawan S. Typhi. Tulisan ini merangkum metodologi, hasil, dan interpretasi dari beberapa studi laboratorium yang dilakukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Strain S. Typhi standar WHO (ATCC 19430) dikultur dalam media LuriaBertani (LB) pada 37C dengan agitasi 180rpm. Kepadatan koloni disiapkan pada 0,5 McFarland (110 CFU/mL) sebelum digunakan dalam uji.
Dilusi rangkap dua dilakukan dalam 96well plate dengan konsentrasi ekstrak mulai 1000g/mL sampai 7,8g/mL. Setelah penambahan bakteri (final 510 CFU/mL) dan inkubasi 24jam, pertumbuhan diukur pada panjang gelombang 600nm. MIC ditetapkan pada konsentrasi terendah yang menunjukkan penghambatan 90% pertumbuhan.
| Ekstrak | Konsentrasi | Zona Hambat (mm) | Interpretasi |
|---|---|---|---|
| Ekstrak Air | 10mg/mL | 120,4 | Moderat |
| Ekstrak Air | 5mg/mL | 80,3 | Rendah |
| Ekstrak Etanol | 10mg/mL | 180,5 | Baik |
| Ekstrak Etanol | 5mg/mL | 130,4 | Moderat |
| Ekstrak Metanol | 10mg/mL | 200,6 | Sangat Baik |
Sel HepG2 (human hepatoma) diincubasi dengan ekstrak pada konsentrasi maksimum yang menghambat 90% pertumbuhan S. Typhi (ekstrak metanol 62,5g/mL). Viabilitas sel tetap >90% selama 24jam, menunjukkan toksisitas seluler yang rendah pada dosis aktif.
Hasil in vitro mengindikasikan bahwa ekstrak cacing tanah memiliki aktivitas antimikroba terhadap S. Typhi. Efektivitas tertinggi tercatat pada ekstrak metanol, yang mampu menghasilkan zona hambat sebesar 20mm dan MIC sebesar 62,5g/mL. Hal ini konsisten dengan laporan sebelumnya bahwa senyawa nonpolar (misalnya asam lemak rantai panjang dan peptida antibakteri) lebih mudah larut dalam pelarut organik, sehingga mengekstraksi komponen bioaktif yang lebih kuat.
Mekanisme aksi diperkirakan meliputi:
Keuntungan utama penggunaan ekstrak cacing tanah adalah ketersediaannya yang melimpah, biaya produksi rendah, serta sifat biodegradable yang ramah lingkungan. Di samping itu, toksisitas seluler yang rendah pada sel manusia mendukung potensi pengembangan produk farmasi atau antiseptik berbasis bionaturalis.
Meskipun temuan in vitro menjanjikan, beberapa keterbatasan tetap harus diatasi sebelum aplikasi klinis:
Ekstrak cacing tanah, khususnya yang dihasilkan dengan pelarut metanol, menunjukkan aktivitas antimikroba yang signifikan terhadap *Salmonella Typhi* pada percobaan in vitro. MIC terendah mencapai 62,5g/mL dengan zona hambat sampai 20mm, serta tidak menimbulkan toksisitas seluler pada konsentrasi aktif. Temuan ini mendukung gagasan bahwa bioaktif yang berasal dari cacing tanah dapat menjadi sumber alternatif antibakteri, terutama dalam konteks peningkatan resistensi antibiotik. Penelitian lanjutan berupa karakterisasi kimiawi molekul aktif, serta evaluasi keamanan dan efektivitas dalam model hewan, sangat diperlukan untuk memajukan ekstrak ini menuju aplikasi klinis atau industri.
