Awal Kehidupan
Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dalam keluarga Khatib. Ayahnya, Haji Jahja, adalah seorang pedagang yang cukup dikenal di daerah itu, sedangkan ibunya, Siti Hajar, adalah sosok wanita yang menanamkan nilainilai kejujuran dan kerja keras pada anakanaknya.
Sejak kecil, Hatta menunjukkan minat yang kuat terhadap ilmu pengetahuan. Ia belajar membaca dan menulis dengan tekun, sekaligus membantu orang tuanya mengelola toko. Lingkungan kota kecil yang dipenuhi oleh pergerakan budaya dan politik pada masa itu membuka mata Hatta pada realitas kolonial Belanda.
Pendidikan
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Hatta melanjutkan ke Sekolah Tinggi Guru (STOVIA) di Batavia pada tahun 1919. Di STOVIA, ia bertemu dengan tokohtokoh pergerakan seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Persahabatan ini menjadi fondasi penting bagi perjuangan politiknya.
Pendidikan medisnya berakhir pada 1924, tetapi Hatta tak berhenti belajar. Ia melanjutkan studi ekonomi di Delft University of Technology, Belanda, pada tahun 1925. Di sana, ia menekuni ilmu ekonomi, politik, dan sejarah, serta aktif dalam pergerakan mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Perjuangan Kemerdekaan
Kembali ke Indonesia pada tahun 1932, Hatta terlibat dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) dan kemudian menjadi salah satu pendiri Partai Masyarakat Indonesia (Parbagi). Ia menulis banyak artikel yang menyoroti ketidakadilan sistem kolonial serta pentingnya persatuan antara berbagai suku, agama, dan golongan.
Pada 1 Juni 1945, bersama Soekarno, Hatta menandatangani Piagam Jakarta yang menjadi landasan bagi pembentukan negara Indonesia merdeka. Tak lama kemudian, pada 17 Agustus 1945, ia bersama Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Sebagai salah satu proklamator, Hatta berperan penting dalam menyusun teks proklamasi serta membujuk para pemimpin Jepang untuk menyerahkan kekuasaan.
Masa Pemerintahan
Setelah proklamasi, Hatta menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia (19451956). Selama masa kepemimpinannya, ia fokus pada pembentukan institusi ekonomi yang kuat, memperjuangkan kebijakan agraria, serta mempromosikan koperasi sebagai motor penggerak perekonomian rakyat.
Pada 1949, Hatta menjadi Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I dan II. Ia berupaya mengatur sistem moneter, memperkuat hubungan diplomatik dengan negaranegara Asia, serta mengupayakan penyelesaian konflik bersenjata di beberapa wilayah.
Warisan dan Penghargaan
Mohammad Hatta wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta. Meskipun tidak lagi berada di panggung politik, pemikirannya tetap hidup melalui banyak lembaga yang ia dirikan. Beberapa di antaranya adalah:
- Koperasi Indonesia Hatta menekankan pentingnya koperasi rakyat sebagai sarana pemberdayaan ekonomi.
- Universitas Gadjah Mada Ia membantu pendirian dan pengembangan universitas sebagai pusat ilmu pengetahuan.
- Pusat Penelitian Ekonomi Penelitian dan kebijakan ekonomi yang berlandaskan pada keadilan sosial.
Hatta juga dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera Utama, serta gelar "Pahlawan Nasional" pascamata. Namanamanya terukir pada jalan, sekolah, dan gedung-gedung pemerintahan di seluruh Indonesia.
Warisan pemikiran Hatta tetap relevan dalam konteks modern. Ideide tentang demokrasi sosial, kemandirian ekonomi, serta keadilan bagi semua lapisan masyarakat menjadi pijakan bagi generasi kini dalam membangun Indonesia yang inklusif.
