Asuhan Keperawatan pada Tn. M dengan Chronic Kidney Disease (CKD)
Latar Belakang
Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis merupakan penurunan fungsi ginjal secara progresif yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Pada tahap lanjut, CKD dapat berujung pada gagal ginjal end-stage dan memerlukan dialisis atau transplantasi. Tn. M, pria berusia 58 tahun, baru-baru ini didiagnosis CKD stadium 4 (eGFR 22mL/menit/1,73m). Ia mengeluhkan kelelahan, edema pada tungkai, dan kesulitan tidur. Asuhan keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk memperlambat progresi penyakit, mengurangi komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup.
Tujuan Asuhan Keperawatan
- Meningkatkan pengetahuan Tn. M tentang CKD dan perawatan diri.
- Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Mencegah komplikasi seperti anemia, hiperparatiroidisme, dan infeksi.
- Mendukung nutrisi yang tepat.
- Memfasilitasi adaptasi psikososial dan kepatuhan terapi.
Pengkajian Keperawatan
Data Subjektif
- Keluhan utama: kelelahan, sesak napas ringan, pembengkakan kaki.
- Riwayat medis: hipertensi sejak 10 tahun, DM tipe 2 (diagnosis 8 tahun), merokok 1 pek. batang/hari.
- Obat-obatan: amlodipin, metformin, suplemen zat besi.
- Poli: Saya takut harus dialisis.
Data Objektif
- Tekanan darah: 150/90mmHg.
- HR 88x/menit, RR 18x/menit, suhu 36,7.
- Edema 2+ pada kedua tungkai bawah.
- Laboratorium: Creatinin 3,2mg/dL, BUN 45mg/dL, Hb 10,2g/dL, K 5,2mmol/L, Ca 8,2mg/dL.
Diagnosa Keperawatan (NIC)
- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan filtrasi glomerulus.
- Risiko anemia berhubungan dengan produksi eritropoietin yang menurun.
- Kecemasan terkait ketidakpastian tentang terapi dialisis.
- Defisit pengetahuan tentang diet CKD.
- Risiko infeksi karena penurunan imunitas.
Intervensi Keperawatan
1. Mengelola keseimbangan cairan
- Monitor input & output tiap 8 jam; catat bobot harian.
- Berikan cairan oral sesuai resep; hindari overload.
- Evaluasi edema dan auskultasi paru.
- Berikan diuretik oral (mis. furosemid) bila diresepkan; pantau kadar K.
2. Mengatasi anemia
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian eritropoietin dan suplemen zat besi.
- Ajarkan pola makan kaya besi nonhemi (bayam, kacang).
- Monitor Hb tiap minggu selama terapi.
3. Edukasi nutrisi
- Sampaikan diet rendah protein (0,60,8g/kg BB), natrium (<2g/hari), kalium (tergantung nilai serum), dan fosfor.
- Beri contoh menu harian dan cara membaca label makanan.
- Lakukan penilaian kepatuhan diet setiap kunjungan.
4. Penanganan kecemasan
- Dengarkan keluhan, beri dukungan emosional.
- Berikan informasi yang jelas mengenai tahap CKD, manfaat dialisis, dan alternatif transplantasi.
- Ajak keluarga terlibat dalam diskusi.
- Gunakan teknik relaksasi (pernapasan dalam, visualisasi) bila diperlukan.
5. Pencegahan infeksi
- Instruksikan cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah perawatan.
- Periksa kulit untuk tanda kemerahan atau luka; beri perawatan luka bila perlu.
- Pastikan imunisasi (influenza, pneumokokus) uptodate.
Evaluasi
- Input & output seimbang, tidak ada kenaikan berat badan >2kg dalam 3 hari.
- Edema berkurang menjadi 1+ dalam 1 minggu.
- Hb meningkat menjadi 11g/dL dalam 4 minggu.
- Kadar K tetap dalam rentang normal (3,55,0mmol/L).
- Pasien melaporkan tingkat kecemasan berkurang (Skala 010 dari 8 menjadi 3).
- Patuh diet dengan asupan protein <0,8g/kg BB dan natrium <2g/hari.
Penutup
Asuhan keperawatan pada Tn. M harus bersifat holistik, menggabungkan manajemen medis, edukasi nutrisi, dukungan psikologis, dan pencegahan komplikasi. Kolaborasi lintas disiplin (dokter, ahli gizi, farmasis, psikolog) serta partisipasi aktif pasien dan keluarga menjadi kunci keberhasilan dalam memperlambat progresi CKD dan meningkatkan kualitas hidup.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.