Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak-anak dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara berkembang termasuk Indonesia. ISPA menduduki peringkat pertama dari sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai pada tahun 2020.
An. D, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, datang ke Puskesmas Rambung dengan keluhan batuk, pilek, dan demam yang telah berlangsung selama 3 hari. Orang tua pasien mengeluhkan bahwa anak mengalami sulit tidur akibat batuk dan nafsu makan menurun sejak sakit.
Kejadian ISPA pada An. D ini diduga akibat lingkungan rumah yang kurang bersih serta pola hidup yang kurang sehat. Selain itu, pengetahuan orang tua terhadap kesehatan pernapasan anak masih terbatas. Hal ini menunjukkan perlunya asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami An. D.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada An. D dengan gangguan sistem pernapasan ISPA di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai tahun 2020.
ISPA adalah infeksi akut pada saluran pernapasan dari hidung sampai alveoli. ISPA dibagi menjadi dua, yaitu ISPA atas dan ISPA bawah. ISPA atas mencakup hidung (rhinitis), faring (faringitis), tonsil (tonsilitis), dan telinga (otitis media). Sedangkan ISPA bawah mencakup trakea (trakeitis), bronkus (bronkitis), dan paru (bronkiolitis, pneumonia).
Penyebab ISPA dapat berupa virus maupun bakteri. Virus yang sering menyebabkan ISPA adalah Rhinovirus, Coronavirus, Adenovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus. Sedangkan bakteri yang sering menyebabkan ISPA adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus.
Organisme masuk melalui saluran pernapasan dan menempel pada mukosa saluran napas. Organisme ini kemudian menginvasi sel epitel dan menyebabkan inflamasi. Inflamasi ini menyebabkan pembengkakan, peningkatan sekresi mukus, dan penghambatan fungsi silia untuk membersihkan saluran napas. Akibatnya, terjadi obstruksi jalur udara, penurunan masuknya oksigen ke paru-paru, dan timbulnya gejala batuk, pilek, demam, dan sesak napas.
Intervensi keperawatan pada pasien ISPA meliputi:
Asuhan keperawatan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Observasi dilakukan mulai dari tanggal 15 Juli 2020 sampai dengan tanggal 22 Juli 2020 di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai.
Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pengkajian dokumentasi medis, dan wawancara dengan orang tua pasien. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Identitas Klien
Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien dibawa orang tuanya ke Puskesmas Rambung dengan keluhan batuk, pilek, dan demam yang sudah berlangsung selama 3 hari. Batuk produktif dengan dahak berwarna putih. Demam dirasakan terutama pada sore dan malam hari dengan suhu tubuh mencapai 38,5C. Klien mengeluh sesak napas ringan dan nafsu makan menurun sejak sakit.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Orang tua mengatakan klien pernah mengalami batuk pilek sebelumnya namun tidak sesedah sekarang. Klien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Klien mendapatkan imunisasi dasar sesuai jadwal.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Ayah klien bekerja sebagai pedagang dan ibu klien adalah ibu rumah tangga. Klien tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang kakak berusia 8 tahun. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit sama dengan klien saat ini. Kondisi rumah klien cukup padat penduduk dan sirkulasi udara di dalam rumah kurang baik.
Pemeriksaan Fisik
| Bagian Tubuh | Pemeriksaan Fisik |
|---|---|
| Kesadaran | Compos mentis |
| Tanda-tanda vital | Tensi darah: 90/60 mmHg Nadi: 98 x/menit Suhu: 38,5C |
| Kepala | Normocephaly, mata simetris, conjungtiva palpebra anemis-, sklera ikterik-, rinitis (+/-), sekret hidung (+) |
| Leher | Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, trakea di tengah, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening |
| Dada | Simetris, nafas cuping hidung (+), penggunaan otot bantu pernapasan (+/-), suara napas vesikuler dengan ronkhi +/+ |
| Jantung | B1 S1 reguler, tidak ada murmur |
| Abdomen | Datam, lemas, turgor baik, bising usus normal |
| Ekstremitas | Akral hangat, edema -, CRT < 2 detik |
Data Penunjang
Hasil pemeriksaan hitung jenis leukosit menunjukkan leukositosis (15.000/L) dengan limfositosis (65%). Pemeriksaan rontgen dada menunjukkan adanya infiltrat pada kedua lapangan paru.
| Subjektif | Ojektif | Analisa |
|---|---|---|
| Ibu mengatakan klien mengalami batuk, pilek, dan demam sejak 3 hari yang lalu | TTV: Suhu 38,5C, Pernafasan 28 x/menit Pemeriksaan fisik: rinitis (+/-), sekret hidung (+), nafas cuping hidung (+), suara napas vesikuler dengan ronkhi +/+ | Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi saluran napas. |
| - | Tidak ada hipoksemia Saturasi oksigen 98% | Risiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi. |
| Ibu mengatakan klien sering bangun malam akibat batuk | Klien tampak lemah dan lesu Klien tampak gelisah saat mengalami batuk | Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan. |
Berdasarkan analisa data di atas, maka diagnosa keperawatan yang muncul adalah:
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, bersihan jalan napas klien kembali efektif.
Kriteria hasil:
Intervensi:
Tujuan: Selama masa perawatan, perfusi jaringan klien tetap adekuat.
Kriteria hasil:
Intervensi:
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, pola tidur klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
Intervensi:
Setelah perencanaan asuhan keperawatan disusun, kemudian dilakukan implementasi sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan. Implementasi dilakukan selama 3 x 24 jam terhitung dari tanggal 15 Juli 2020 sampai dengan tanggal 18 Juli 2020.
Implementasi dilakukan oleh perawat dengan memberikan edukasi kepada orang tua klien tentang cara merawat anak dengan ISPA, teknik tapping yang benar, pentingnya nutrisi dan cairan, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah. Perawat juga memberikan tindakan nebulizer sesuai program terapi dan memantau tanda-tanda vital klien secara berkala.
Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, masalah belum sepenuhnya teratasi. Frekuensi napas klien 26 x/menit, masih terdapat ronkhi (+/-), namun nafas cuping hidung sudah tidak nampak.
Tindak lanjut: Lanjutkan intervensi keperawatan, fokus pada teknik tapping dan pemberian cairan yang adekuat.
Hasil: Saturasi oksigen klien tetap dalam batas normal (98%), tidak terjadi sianosis, kesadaran compos mentis, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Tindak lanjut: Terus pantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen secara berkala.
Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, masalah sebagian teratasi. Klien dapat tidur 5-6 jam per hari, namun masih terbangun beberapa kali akibat batuk.
Tindak lanjut: Lanjutkan intervensi keperawatan, fokus pada mengurangi batuk yang dialami klien.
Asuhan keperawatan pada An. D dengan gangguan sistem pernapasan ISPA di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai tahun 2020 telah dilakukan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan 3 diagnosa keperawatan yaitu bersihan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret saluran napas, beresiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi, dan gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan.
Setelah dilakukan implementasi selama 3 x 24 jam, diperoleh hasil bahwa diagnosa beresiko perubahan perfusi jaringan sudah teratasi, sedangkan diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif dan gangguan pola tidur belum sepenuhnya teratasi namun menunjukkan perbaikan.
Keluarga diharapkan dapat melanjutkan perawatan di rumah dengan menerapkan teknik keperawatan yang telah diajarkan seperti teknik tapping, memberikan nutrisi dan cairan yang adekuat, serta menjaga kebersihan lingkungan rumah.
Perawat diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam hal edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan ISPA dan cara pertolongan pertama pada anak yang mengalami gangguan pernapasan.
