Admin 06 Jun 2026 08:10

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. D DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT) DI PUSKESMAS RAMBUNG KECAMATAN BINJAI SELATAN KOTA BINJAI TAHUN 2020

Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak-anak dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara berkembang termasuk Indonesia. ISPA menduduki peringkat pertama dari sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai pada tahun 2020.

An. D, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, datang ke Puskesmas Rambung dengan keluhan batuk, pilek, dan demam yang telah berlangsung selama 3 hari. Orang tua pasien mengeluhkan bahwa anak mengalami sulit tidur akibat batuk dan nafsu makan menurun sejak sakit.

Kejadian ISPA pada An. D ini diduga akibat lingkungan rumah yang kurang bersih serta pola hidup yang kurang sehat. Selain itu, pengetahuan orang tua terhadap kesehatan pernapasan anak masih terbatas. Hal ini menunjukkan perlunya asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami An. D.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada An. D dengan gangguan sistem pernapasan ISPA di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai tahun 2020.

Tinjauan Pustaka

Konsep ISPA

ISPA adalah infeksi akut pada saluran pernapasan dari hidung sampai alveoli. ISPA dibagi menjadi dua, yaitu ISPA atas dan ISPA bawah. ISPA atas mencakup hidung (rhinitis), faring (faringitis), tonsil (tonsilitis), dan telinga (otitis media). Sedangkan ISPA bawah mencakup trakea (trakeitis), bronkus (bronkitis), dan paru (bronkiolitis, pneumonia).

Etiologi ISPA

Penyebab ISPA dapat berupa virus maupun bakteri. Virus yang sering menyebabkan ISPA adalah Rhinovirus, Coronavirus, Adenovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus. Sedangkan bakteri yang sering menyebabkan ISPA adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus.

Patofisiologi ISPA

Organisme masuk melalui saluran pernapasan dan menempel pada mukosa saluran napas. Organisme ini kemudian menginvasi sel epitel dan menyebabkan inflamasi. Inflamasi ini menyebabkan pembengkakan, peningkatan sekresi mukus, dan penghambatan fungsi silia untuk membersihkan saluran napas. Akibatnya, terjadi obstruksi jalur udara, penurunan masuknya oksigen ke paru-paru, dan timbulnya gejala batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

Manifestasi Klinik ISPA

  • Batuk pilek
  • Demam
  • Sesak napas
  • Nafsu makan menurun
  • Suhu tubuh meningkat
  • Suara napas mengi (wheezing)
  • Nyeri tenggorokan

Pemeriksaan Penunjang

  • Hitung jenis leukosit (Hematologi)
  • Rontgen dada
  • Pemeriksaan fisik: pemeriksaan tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik sistem pernapasan

Penatalaksanaan Medis ISPA

  • Terapi suportif: istirahat yang cukup, perbanyak minum, dan nutrisi yang seimbang
  • Terapi simptomatik: antipiretik (parasetamol), dekongestan, dan ekspektoran
  • Antibiotik: jika terdapat indikasi bakteri
  • Oksigen: jika terdapat hipoksemia
  • Bronkodilator: jika terdapat bronkospasme

Asuhan Keperawatan pada Pasien ISPA

Intervensi keperawatan pada pasien ISPA meliputi:

  • Mempertahankan jalan napas yang efektif
  • Meningkatkan pertukaran gas
  • Mengelola sekresi
  • Meningkatkan kenyamanan istirahat
  • Mencegah infeksi sekunder
  • Edukasi kesehatan kepada keluarga tentang perawatan anak dengan ISPA

Metode

Asuhan keperawatan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Observasi dilakukan mulai dari tanggal 15 Juli 2020 sampai dengan tanggal 22 Juli 2020 di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai.

Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pengkajian dokumentasi medis, dan wawancara dengan orang tua pasien. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Hasil

Pengkajian

Identitas Klien

  • Nama: An. D
  • Umur: 4 tahun
  • Jenis Kelamin: Laki-laki
  • Agama: Islam
  • Suku: Jawa
  • Pendidikan: Belum sekolah
  • Alamat: Jl. Meranti No. 45 Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai

Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien dibawa orang tuanya ke Puskesmas Rambung dengan keluhan batuk, pilek, dan demam yang sudah berlangsung selama 3 hari. Batuk produktif dengan dahak berwarna putih. Demam dirasakan terutama pada sore dan malam hari dengan suhu tubuh mencapai 38,5C. Klien mengeluh sesak napas ringan dan nafsu makan menurun sejak sakit.

Riwayat Kesehatan Dahulu

Orang tua mengatakan klien pernah mengalami batuk pilek sebelumnya namun tidak sesedah sekarang. Klien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Klien mendapatkan imunisasi dasar sesuai jadwal.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Ayah klien bekerja sebagai pedagang dan ibu klien adalah ibu rumah tangga. Klien tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang kakak berusia 8 tahun. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit sama dengan klien saat ini. Kondisi rumah klien cukup padat penduduk dan sirkulasi udara di dalam rumah kurang baik.

Pemeriksaan Fisik

Bagian Tubuh Pemeriksaan Fisik
Kesadaran Compos mentis
Tanda-tanda vital Tensi darah: 90/60 mmHg
Nadi: 98 x/menit
Suhu: 38,5CBB: 15 kg
Kepala Normocephaly, mata simetris, conjungtiva palpebra anemis-, sklera ikterik-, rinitis (+/-), sekret hidung (+)
Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, trakea di tengah, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Dada Simetris, nafas cuping hidung (+), penggunaan otot bantu pernapasan (+/-), suara napas vesikuler dengan ronkhi +/+
Jantung B1 S1 reguler, tidak ada murmur
Abdomen Datam, lemas, turgor baik, bising usus normal
Ekstremitas Akral hangat, edema -, CRT < 2 detik

Data Penunjang

Hasil pemeriksaan hitung jenis leukosit menunjukkan leukositosis (15.000/L) dengan limfositosis (65%). Pemeriksaan rontgen dada menunjukkan adanya infiltrat pada kedua lapangan paru.

Analisa Data

Subjektif Ojektif Analisa
Ibu mengatakan klien mengalami batuk, pilek, dan demam sejak 3 hari yang lalu TTV: Suhu 38,5C, Pernafasan 28 x/menit
Pemeriksaan fisik: rinitis (+/-), sekret hidung (+), nafas cuping hidung (+), suara napas vesikuler dengan ronkhi +/+
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi saluran napas.
- Tidak ada hipoksemia
Saturasi oksigen 98%
Risiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi.
Ibu mengatakan klien sering bangun malam akibat batuk Klien tampak lemah dan lesu
Klien tampak gelisah saat mengalami batuk
Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan.

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisa data di atas, maka diagnosa keperawatan yang muncul adalah:

  1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi saluran napas.
  2. Risiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi.
  3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan.

Perencanaan

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi saluran napas

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, bersihan jalan napas klien kembali efektif.

Kriteria hasil:

  • Jalan napas bersih (tidak ada ronkhi)
  • Frekuensi napas dalam batas normal (20-30 x/menit)
  • Tidak ada nafas cuping hidung

Intervensi:

  1. Kaji frekuensi dan kedalaman napas, serta catat keberadaan suara napas tambahan.
  2. Posisikan klien dengan posisi semi Fowler atau duduk tegak untuk memaksimalkan ekspansi paru.
  3. Berikan cairan yang mencukupi minimal 1500 ml/hari untuk membantu pengenceran sekret.
  4. Tingkatkan pengeluaran sekret dengan teknik tapping (pijatan punggung) dan vibration sesuai indikasi.
  5. Berikan nebulizer sesuai program terapi (bronektase + ventolin) untuk membantu pengenceran sekret dan bronkodilatasi.
  6. Dorong batuk efektif dan berikan teknik napas dalam.
  7. Ajarkan orang tua melakukan teknik tapping pada klien di rumah untuk membantu pengeluaran sekret.
  8. Kolaborasi pemberian obat mukolitik dan ekspektoran sesuai program terapi.

2. Risik perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi

Tujuan: Selama masa perawatan, perfusi jaringan klien tetap adekuat.

Kriteria hasil:

  • Saturasi oksigen tetap dalam batas normal (>95%)
  • Tidak terjadi sianosis
  • Tidak terjadi perubahan kesadaran
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi:

  1. Pantau tanda-tanda vital secara berkala.
  2. Ausitasi suara napas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi/oksigenasi.
  3. Pantau saturasi oksigen secara berkala.
  4. Observasi adanya sianosis pada bibir, ujung jari dan ujung hidung.
  5. Observasi kesadaran klien secara berkala.
  6. Kolaborasi pemberian oksigen jika diperlukan.
  7. Berikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya menjaga sirkulasi udara di dalam rumah.

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, pola tidur klien terpenuhi.

Kriteria hasil:

  • Klien dapat tidur 6-8 jam per hari
  • Ekspresi wajah tampak segar dan tidak gelisah
  • Klien tampak tenang saat istirahat

Intervensi:

  1. Kaji pola tidur klien sebelum sakit (durasi dan waktu tidur).
  2. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidur (kurangi kebisingan, atur pencahayaan).
  3. Berikan kompres hangat pada dada untuk mengurangi sesak napas.
  4. Lakukan teknik relaksasi sebelum tidur.
  5. Berikan obat antitusif sesuai program terapi jika batuk sangat mengganggu.
  6. Dorong istirahat di siang hari untuk mencegah kelelahan.
  7. Ajarkan orang tua teknik menenangkan anak yang mengalami gangguan tidur.

Implementasi

Setelah perencanaan asuhan keperawatan disusun, kemudian dilakukan implementasi sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan. Implementasi dilakukan selama 3 x 24 jam terhitung dari tanggal 15 Juli 2020 sampai dengan tanggal 18 Juli 2020.

Implementasi dilakukan oleh perawat dengan memberikan edukasi kepada orang tua klien tentang cara merawat anak dengan ISPA, teknik tapping yang benar, pentingnya nutrisi dan cairan, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah. Perawat juga memberikan tindakan nebulizer sesuai program terapi dan memantau tanda-tanda vital klien secara berkala.

Evaluasi

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret saluran napas

Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, masalah belum sepenuhnya teratasi. Frekuensi napas klien 26 x/menit, masih terdapat ronkhi (+/-), namun nafas cuping hidung sudah tidak nampak.

Tindak lanjut: Lanjutkan intervensi keperawatan, fokus pada teknik tapping dan pemberian cairan yang adekuat.

2. Beresiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi

Hasil: Saturasi oksigen klien tetap dalam batas normal (98%), tidak terjadi sianosis, kesadaran compos mentis, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.

Tindak lanjut: Terus pantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen secara berkala.

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan

Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, masalah sebagian teratasi. Klien dapat tidur 5-6 jam per hari, namun masih terbangun beberapa kali akibat batuk.

Tindak lanjut: Lanjutkan intervensi keperawatan, fokus pada mengurangi batuk yang dialami klien.

Kesimpulan

Asuhan keperawatan pada An. D dengan gangguan sistem pernapasan ISPA di Puskesmas Rambung Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai tahun 2020 telah dilakukan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan 3 diagnosa keperawatan yaitu bersihan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret saluran napas, beresiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigenasi, dan gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang dirasakan.

Setelah dilakukan implementasi selama 3 x 24 jam, diperoleh hasil bahwa diagnosa beresiko perubahan perfusi jaringan sudah teratasi, sedangkan diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif dan gangguan pola tidur belum sepenuhnya teratasi namun menunjukkan perbaikan.

Keluarga diharapkan dapat melanjutkan perawatan di rumah dengan menerapkan teknik keperawatan yang telah diajarkan seperti teknik tapping, memberikan nutrisi dan cairan yang adekuat, serta menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Perawat diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam hal edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan ISPA dan cara pertolongan pertama pada anak yang mengalami gangguan pernapasan.

File Referensi Untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. D DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT) DI PUSKESMAS RAMBUNG KECAMATAN BINJAI SELATAN KOTA BINJAI TAHUN 2020
Screenshoot
Nama File
asuhan_keperawatan_pada_a1_new.pdf

Ukuran File
0.85 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. D DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT) DI PUSKESMAS RAMBUNG KECAMATAN BINJAI SELATAN KOTA BINJAI TAHUN 2020. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. D DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ISPA (INFEKSI SALURAN PER...


admin
Admin
2026-06-06 08:10:16

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 15:44:10

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 17:18:12

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan (ASKEP) Pada Pasien Dengan Gangguan Pernapasan Akut Sepert...


admin
Admin
2026-05-23 17:25:05

Asuhan Keperawatan Pada Klien Sindrom Koroner Akut (SKA) Dengan Masalah Keperawatan Nyeri...


admin
Admin
2026-06-07 12:26:15