Pendahuluan
Kehamilan trimester III merupakan periode krusial yang dimulai sejak usia kehamilan memasuki minggu ke-28 hingga proses persalinan terjadi. Pada tahap ini, janin mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, dan tubuh ibu mulai melakukan persiapan fisik maupun psikologis menyambut kelahiran. Asuhan kebidanan yang berkualitas pada trimester ini sangat penting untuk memantau kesehatan ibu dan janin, mendeteksi sedini mungkin komplikasi yang mungkin timbul, serta mempersiapkan kelancaran proses persalinan dan nifas.
Tujuan utama pemberian asuhan kebidanan pada trimester III adalah untuk menjaga kesehatan ibu dan janin agar tetap optimal, meminimalkan risiko terjadinya komplikasi seperti preeklampsia, persalinan prematur, atau distres janin, serta memberikan edukasi yang cukup kepada ibu dan keluarga mengenai tanda-tanda bahaya, persiapan persalinan, dan perawatan bayi baru lahir.
Perubahan Fisiologis pada Trimester III
Pemahaman bidan terhadap perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu hamil trimester III menjadi dasar dalam pemberian asuhan. Perubahan ini mencakup aspek anatomi, fisiologi, dan psikologis.
A. Perubahan pada Sistem Reproduksi
Uterus membesar dengan cepat dan mencapai tinggi fundus uteri sekitar 36-40 cm di atas simfisis pubis. Tekanan uterus pada diafragma menyebabkan ibu sesak napas (dyspnea). Serviks menjadi lebih lunak (ripening). Ligamentum rotundum tertarik, seringkali menyebabkan nyeri di panggul atau punggung bawah.
B. Perubahan pada Sistem Kardiovaskular
Volume darah meningkat secara signifikan untuk memenuhi kebutuhan plasenta dan janin. Terjadi peningkatan frekuensi jantung ibu. Tekanan darah mungkin berubah akibat penekanan vena kava inferior oleh uterus (vena cava syndrome), yang dapat menyebabkan hipotensi saat ibu berbaring telentang (supine hypotensive syndrome).
C. Perubahan pada Sistem Pencernaan
Tekanan uterus pada lambung menyebabkan refluks asam (heartburn) dan sensasi cepat kenyang. Tekanan pada rektum dapat menyebabkan konstipasi dan wasir (hemoroid). Serta sering terjadi kram pada kaki akibat peningkatan berat badan dan tekanan pada pembuluh darah panggul.
Standar Asuhan Kebidanan (Manajemen Kebidanan)
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada trimester III harus mengikuti standar prosedur operasional yang berlaku, biasanya menggunakan pendekatan Manajemen Kebidanan (Varney) yang mencakup langkah-langkah berikut:
1. Pengkajian (Assessment)
Pengkajian dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
- Anamnesis: Mengeluh Keluhan utama ibu saat kunjungan, seperti nyeri punggung, sesak napas, atau gerakan janin. Riwayat kehamilan sekarang: HPHT, usia kehamilan, pergerakan janin, dan riwayat penyakit penyerta (hipertensi, diabetes kencing gestasional). Riwayat obstetri: jumlah kehamilan, persalinan, abortus, dan kehidupan anak sebelumnya (GPA). Riwayat kesehatan keluarga dan sosial.
- Pemeriksaan Fisik:
- Keadaan Umum: Kesadaran, tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Nadi, Respirasi, Suhu), dan berat badan.
- Inspeksi: Bentuk abdomen (striatae gravidarum, linea nigra), edema pada tungkai, tangan, atau wajah.
- Palpasi: Teknik Leopold untuk menentukan posisi dan presentasi janin (letak kepala, sungsang, atau melintang), serta estimasi berat janin.
- Auskultasi: Memeriksa Detak Jantung Janin (DJJ) normal berkisar antara 120-160 kali per menit. Menggunakan Doppler atau fetoskop.
- Pemeriksaan Dalam: Dilakukan sesuai indikasi pada menjelang persalinan (HPL) untuk menilai pembukaan dan penipisan serviks.
- Pemeriksaan Penunjang: Hemoglobin untuk deteksi anemia, protein urin untuk deteksi preeklampsia, gula darah puasa untuk diabetes gestasional, dan ultrasonografi (USG) jika perlu untuk mengecek posisi plasenta dan pertumbuhan janin.
2. Identifikasi Masalah dan Diagnosa
Berdasarkan hasil pengkajian, bidan menyusun diagnosa kebidanan atau masalah potensial. Contohnya: "Ibu hamil trimester III diduga mengalami anemia berdasarkan hasil pemeriksaan Hb 10 g/dL" atau "Ibu hamil menjelang persalinan dengan presentasi kepala, letak belakang kiri (LBK)."
3. Perencanaan (Planning)
Menyusun rencana tindakan segera dan lanjutan. Rencana ini harus disepakati bersama ibu (informed consent).
- Rencana tindakan edukasi mengenai tanda-tanda persalinan dan tanda bahaya.
- Rencana pemberian suplemen zat besi dan asam folat.
- Perencanaan fasilitas tempat persalinan dan transportasi.
