Novel Geni Jora (2021) karya penulis IndonesiaMalaysian, Abidah El Khalieqy, menyajikan sebuah narasi tentang dinamika identitas gender di tengah budaya MelayuArab yang masih lekat pada tradisi patriarki. Lewat sudut pandang tokoh utama, Jora, sang perempuan muda yang berjuang menemukan suara di ruangruang publik dan privat, novel ini memberikan bahan kajian yang kaya bagi guruguru Sastra di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengajarkan apresiasi sastra secara kontekstual.
Pragmatik gender merupakan pendekatan interdisipliner yang memadukan kajian pragmatik (bagaimana makna dibangun dalam interaksi) dengan teori gender (bagaimana peran, identitas, dan kekuasaan terbentuk berdasarkan jenis kelamin). Pendekatan ini menekankan:
Jora digambarkan sebagai anak perempuan yang selalu menahan diri. Ia menggunakan bahasa halus, sering menghindari konfrontasi langsung, namun pada saat yang sama ia menyisipkan retorika perlawanan melalui metafora geni (gigi) yang tajam. Sebaliknya, karakter lakilaki seperti Hamdan tampak menggunakan bahasa imperatif dan menegaskan otoritasnya melalui perintah.
Dalam dialog antara Jora dan ayahnya, terdapat penggunaan strategi politeness (Brown & Levinson) yang diadaptasi pada konteks budaya MelayuArab. Jora memilih mitigated request (permintaan yang dilembutkan) untuk meminta izin belajar di luar rumah, menandakan posisi subordinatnya. Namun, pada bagian klimaks, ia beralih ke direct assertion (penegasan langsung) yang mengubah posisi interaksionalnya.
Penggunaan istilah bapa, ibu, pakcik, kakak secara konsisten menandai hierarki patriarki. Penulis juga menaruh tekanan pada penampilan fisik dan moralitas perempuan (mis. larangan memakai hijab berwarna cerah), yang memunculkan gendered expectations dalam wacana seharihari.
Dengan mengaitkan unsur pragmatik gender, guru dapat mengajarkan siswa cara membaca di antara baris, memahami tidak hanya apa yang tertulis tetapi juga bagaimana bahasa dipakai untuk menegaskan atau menantang struktur kekuasaan. Ini selaras dengan standar Kurikulum 2013 yang menekankan pengembangan berpikir kritis.
Penggunaan contoh-contoh yang relevan dengan realitas IndonesiaMalaysia (mis. adat istiadat, peran perempuan dalam keluarga, serta perdebatan seputar hijab) membantu siswa melihat sastra bukan sekadar benda estetika melainkan cermin dinamika sosial yang hidup.
Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi guru:
Novel Geni Jora menyediakan landasan yang kuat untuk memperkenalkan analisis pragmatik gender dalam konteks pembelajaran apresiasi sastra di SMA. Dengan menelaah cara bahasa mengekspresikan kekuasaan, harapan, dan identitas gender, siswa tidak hanya mengasah kemampuan literasi tetapi juga mengembangkan kepekaan sosial yang penting bagi generasi milenial.
Penggunaan pendekatan ini secara konsisten dapat menumbuhkan kelas yang lebih inklusif, kritis, dan mampu menghubungkan teks sastra dengan dinamika nyata di masyarakat.
Untuk materi lebih lanjut, kunjungi Pusat Bahasa Kemdikbud atau Google Scholar.
