Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat merkuri (Hg) pada tumbuhan paku jenis Davalia denticulata yang tumbuh di bantaran Sungai Bone, Provinsi Gorontalo. Sungai Bone merupakan salah satu sungai terbesar di Gorontalo yang berpotensi menerima pencemaran dari berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Merkuri (Hg) adalah salah satu logam berat yang berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel tanaman paku dari tiga titik berbeda di sepanjang bantaran Sungai Bone, analisis laboratorium menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), dan pengukuran parameter lingkungan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan merkuri pada Davalia denticulata bervariasi antar stasiun pengamatan, namun secara keseluruhan masih berada di bawah batas toleransi yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat indikasi kontaminasi merkuri di Sungai Bone, tingkat pencemaran belum mencapai tingkat yang berbahaya bagi ekosistem.

Kata kunci: Merkuri, logam berat, Davalia denticulata, Sungai Bone, Gorontalo, bioakumulasi

Pendahuluan

Pencemaran lingkungan oleh logam berat telah menjadi isu global yang memerlukan perhatian serius. Di antara berbagai logam berat, merkuri (Hg) merupakan salah satu yang paling berbahaya karena sifatnya yang persisten, bioakumulatif, dan toksik. Merkuri dapat masuk ke lingkungan perairan melalui berbagai aktivitas manusia seperti pertambangan emas, pembuangan limbah industri, dan penggunaan pestisida. Di Gorontalo, Sungai Bone merupakan salah satu sungai utama yang berpotensi menerima pencemaran merkuri karena adanya aktivitas pertambangan emas rakyat di wilayah hulu sungai.

Tumbuhan paku (ferns) telah dikenal memiliki kemampuan bioakumulasi terhadap logam berat, termasuk merkuri. Kemampuan ini menjadikannya indikator biologis yang baik untuk memantau tingkat pencemaran logam berat di lingkungan perairan. Davalia denticulata adalah salah satu jenis tumbuhan paku yang umum ditemukan tumbuh di bantaran sungai di Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan merkuri pada Davalia denticulata yang tumbuh di bantaran Sungai Bone sebagai langkah awal dalam pemantauan kualitas lingkungan sungai tersebut.

Metodologi

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di sepanjang bantaran Sungai Bone, Provinsi Gorontalo. Sungai Bone mengalir dari hulu di daerah Hulonthalangi ke hilir di Teluk Tomini, melewati berbagai aktivitas manusia, termasuk area pertambangan emas rakyat. Pengambilan sampel dilakukan pada musim kemarau untuk meminimalkan pengaruh debit air yang tinggi terhadap distribusi logam berat.

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif. Tiga stasiun penelitian ditetapkan sepanjang bantaran Sungai Bone:

  • Stasiun 1: Hulu sungai, dekat dengan aktivitas pertambangan emas rakyat
  • Stasiun 2: Tengah sungai, melalui area permukiman dan pertanian
  • Stasiun 3: Hilir sungai, dekat dengan muara sungai dan aktivitas perikanan

Pengambilan Sampel

Sebanyak 15 sampel Davalia denticulata diambil dari setiap stasiun dengan berbagai ukuran dan usia untuk representatif. Sampel diambil dengan hati-hati menggunakan tangan bersarung dan alat potong steril untuk menghindari kontaminasi. Setiap sampel dicatat lokasi koordinatnya menggunakan GPS. Selain tanaman, sampel air dan sedimen juga diambil dari lokasi yang sama untuk analisis pembandung.

Analisis Laboratorium

Sampel tanaman dibersihkan dari kotoran dan tanah yang menempel, kemudian dikeringkan pada suhu 70C hingga bobot konstan. Sampel kering kemudian dihancurkan menjadi serbuk halus. Proses digesti dilakukan dengan menggunakan campulan HNO3 dan HClO4. Kandungan merkuri dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) dengan teknik cold vapor. Analisis juga dilakukan pada sampel air dan sedimen sebagai pembanding.

Parameter Lingkungan

Parameter lingkungan yang diukur meliputi pH air, suhu, kecepatan aliran, dan konsentrasi oksigen terlarut. Pengukuran ini dilakukan in situ menggunakan alat ukur portabel.

Hasil dan Pembahasan

Kondisi Lingkungan di Sungai Bone

Berdasarkan pengukuran in situ, kondisi fisik-kimia air Sungai Bone dalam penelitian ini menunjukkan variasi antar stasiun. Suhu air berkisar antara 25-28C, yang masih dalam kisara normal untuk ekosistem perairan tropis. Nilai pH air berkisar antara 6.5-7.5, menunjukkan bahwa kondisi air netral hingga sedikit basa. Kandungan oksigen terlarut (DO) berkisar antara 4.5-6.0 mg/L, yang masih mendukung kehidupan organisme akuatik.

Kandungan Merkuri pada Davalia denticulata

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kandungan merkuri pada Davalia denticulata bervariasi antar stasiun pengamatan. Tabel berikut menunjukkan hasil analisis merkuri pada sampel tanaman paku dari berbagai stasiun:

Stasiun Konsentrasi Hg (mg/kg) pada Davalia denticulata Batas Toleransi (mg/kg)
Stasiun 1 (Hulu) 0.12 0.03 0.5
Stasiun 2 (Tengah) 0.08 0.02 0.5
Stasiun 3 (Hilir) 0.06 0.01 0.5

Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan merkuri tertinggi ditemukan pada Davalia denticulata di Stasiun 1 (hulu sungai), yang merupakan area terdekat dengan aktivitas pertambangan emas rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas pertambangan emas tradisional menggunakan merkuri memberi kontribusi signifikan terhadap kontaminasi logam berat di hulu Sungai Bone.

Kandungan merkuri menurun sepanjang aliran sungai dari hulu ke hilir. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh beberapa faktor:

  1. Dilusi merkuri di sepanjang aliran sungai
  2. Deposisi merkuri ke sedimen sepanjang aliran
  3. Berkurangnya sumber pencemar di bagian tengah dan hilir sungai
  4. Adanya proses degradasi atau transformasi merkuri di alam

Seluruh sampel Davalia denticulata yang dianalisis menunjukkan kandungan merkuri di bawah batas toleransi yang ditetapkan oleh badan standar lingkungan (0.5 mg/kg). Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat kontaminasi merkuri di Sungai Bone, tingkat pencemaran belum mencapai titik yang berbahaya bagi ekosistem dan potensial untuk masuk ke dalam rantai makanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akumulasi Merkuri pada Davalia denticulata

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi akumulasi merkuri pada tumbuhan paku Davalia denticulata:

  • Proximintas dengan sumber pencemar: Stasiun yang lebih dekat dengan aktivitas pertambangan emas menunjukkan kandungan merkuri yang lebih tinggi.
  • Kondisi tanah dan sedimen: Tanah dan sedimen yang terkontaminasi merkuri akan melepaskan logam ini secara perlahan, yang kemudian diambil akar tanaman.
  • Karakteristik tanaman: Davalia denticulata memiliki sistem akar yang luas dan efisien dalam menyerap air dan nutrisi, sehingga juga menyerap logam berat yang terlarut dalam air tanah.
  • Usia tanaman: Tanaman yang lebih tua cenderung memiliki akumulasi merkuri yang lebih tinggi karena paparan yang lebih lama.

Implikasi Bioakumulasi Merkuri

Kemampuan Davalia denticulata dalam mengakumulasi merkuri memiliki implikasi penting dalam pemantauan lingkungan. Tanaman ini dapat berfungsi sebagai bioindikator efektif untuk melacak tingkat kontaminasi merkuri di sepanjang Sungai Bone. Selain itu, tanaman paku ini juga dapat berperan dalam fitoremediasi, yaitu penggunaan tanaman untuk membersihkan lingkungan dari kontaminan.

Meskipun kandungan merkuri yang ditemukan masih di bawah batas toleransi, perlu diingat bahwa merkuri memiliki sifat bioakumulatif yang dapat meningkat sepanjang rantai makanan. Oleh karena itu, pemantauan berkelanjutan terhadap tingkat pencemaran merkuri di Sungai Bone tetap penting dilakukan untuk mencegah kerusakan ekosistem dan risiko kesehatan bagi masyarakat yang bergantung pada sumber daya sungai tersebut.

Manajemen dan Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa rekomendasi manajemen dapat diajukan:

  1. Pengembangan sistem pemantauan berkala terhadap kandungan merkuri di Sungai Bone, dengan menggunakan Davalia denticulata sebagai salah satu bioindikator.
  2. Edukasi kepada pelaku pertambangan emas rakyat tentang metode penambangan yang lebih ramah lingkungan dan pengurangan penggunaan merkuri dalam proses ekstraksi emas.
  3. Pengembangan metode fitoremediasi yang memanfaatkan Davalia denticulata atau tanaman lokal lainnya untuk mengurangi kontaminasi merkuri di bantaran sungai.
  4. Regulasi yang lebih ketat terhadap pembuangan limbah yang mengandung merkuri ke perairan Sungai Bone.
  5. Penelitian lebih lanjut tentang akumulasi merkuri pada organisme lain di ekosistem Sungai Bone untuk memahami transfer logam berat dalam rantai makanan.

Kesimpulan

Penelitian analisis kandungan logam berat merkuri (Hg) pada tumbuhan paku jenis Davalia denticulata di bantaran Sungai Bone Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa kandungan merkuri bervariasi antar stasiun, dengan tingkatan tertinggi ditemukan di hulu sungai yang dekat dengan aktivitas pertambangan emas rakyat. Namun, secara keseluruhan kandungan merkuri yang ditemukan masih berada di bawah batas toleransi yang ditetapkan, yaitu 0.5 mg/kg.

Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa Davalia denticulata memiliki kemampuan bioakumulasi terhadap merkuri dan dapat berfungsi sebagai bioindikator efektif untuk memantau tingkat pencemaran merkuri di ekosistem perairan. Penggunaan tanaman ini sebagai bagian dari sistem pemantauan lingkungan dapat membantu dalam deteksi dini potensi risiko pencemaran di Sungai Bone.

Meskipun kandungan merkuri saat ini masih dalam batas aman, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran berkelanjutan untuk menjaga kualitas lingkungan Sungai Bone dan mencegah peningkatan kontaminasi merkuri di masa depan yang dapat berdampak negatif pada ekosistem dan kesehatan manusia.