Analisis butir soal merupakan prosedur penting dalam penjaminan kualitas asesmen pendidikan. Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan penilaian di SMP Negeri 35 Pekanbaru, khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII, dilakukan analisis terhadap hasil ujian semester ganjil tahun ajaran 2019/2020. Tujuan analisis ini adalah untuk mengidentifikasi kinerja soal, mengevaluasi kesesuaian indikator dengan kurikulum, serta memberikan rekomendasi perbaikan bagi penyusun soal di masa depan.
Berdasarkan Kurikulum Merdeka yang diterapkan pada tahun ajaran tersebut, ujian semester menguji pencapaian kompetensi peserta didik. Analisis butir soal mencakup aspek validitas, reliabilitas, dan daya pembeda. Validitas menunjukkan sejauh mana soal mengukur apa yang seharusnya diukur. Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengujian, sedangkan daya pembeda mengindikasikan seberapa baik soal membedakan peserta didik yang mahir dan kurang mahir.
Analisis ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik siklus soal. Data yang dianalisis bersumber dari lembar jawaban peserta didik, kunci jawaban, dan rubrik penilaian. Teknik yang digunakan meliputi analisis item response theory (IRT), statistik deskriptif, serta validasi kelompok. Sebanyak 35 soal pilihan ganda dan 5 soal esai diajukan kepada 120 siswa kelas VII yang terdiri dari 6 kelas.
Dari 40 soal yang diberikan, ditemukan bahwa 32 soal memiliki daya pembeda yang cukup memuaskan (rata-rata discriminasi 0,65). Namun, 8 soal menunjukkan daya pembeda rendah, terutama pada soal-soal yang menguji keterampilan menulis (soal esai). Ini menunjukkan bahawa soal-soal praktik menulis perlu direvisi agar lebih spesifik terhadap indikator yang ingin dicapai.
Segmen usia peserta didik menunjukkan bahawa peserta didik perempuan secara signifikan lebih unggul dibandingkan laki-laki pada soal-soal membaca dan menyaring informasi. Sementara itu, laki-laki lebih dominan dalam menyelesaikan soal-soal yang memerlukan logika dan analisis lebih dalam. Aspek grammatika menjadi area lemah umat peserta didik, khususnya pada soal-soal tata bahasa lanjutan seperti pelaunan kata dan struktur kalimat kompleks.
Secara keseluruhan, ujian semester ganjil memberikan kontribusi positif terhadap penilaian akhir semester. Namun, beberapa aspek perlu diperbaiki. Pertama, soal-soal esai perlu disusun dengan rubrik yang lebih detail untuk menghindari ambiguitas. Kedua, pengembangan bank soal alternatif yang seimbang antara semua kompetensi dasar. Ketiga, pelatihan ulang bagi guru penyusun soal mengenai standar penilaian yang konsisten. Keempat, pendekatan asesmen berbasis proyek dapat ditambahkan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada soal pilihan ganda semata.
Rekomendasi lain adalah melakukan uji coba soal (pilot testing) sebelum digunakan secara resmi. Hal ini dapat mencegah masalah di lapangan seperti ketidaksesuaian konteks soal dengan kurikulum. Selain itu, integrasi nilai-nilai karakter dalam soal-soal bahasa Indonesia juga perlu diperkuat sebagai wujud pendidikan holistik peserta didik.
Analisis butir soal ujian semester ganjil ini memberikan gambaran nyata tentang kinerja butir soal dan area perbaikan. Dengan hasil temuan ini, diharapkan SMP Negeri 35 Pekanbaru dapat meningkatkan kualitas asesmen sekaligus pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII. Kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan tim kurikulum menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem pendidikan yang lebih unggul dan berorientasi pada hasil belajar nyata peserta didik.
