Crank shaft atau poros engkol merupakan komponen kunci dalam rangkaian mesin pembakaran dalam. Pada sektor manufaktur mesin (M/C), kualitas crank shaft mempengaruhi performa, efisiensi bahan bakar, serta umur mesin secara keseluruhan. Karena itu, setiap langkah produksi harus diawasi secara ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pembentukan, hingga inspeksi akhir. Pengendalian kualitas (quality control) pada seksi M/C crank shaft tidak hanya bertujuan untuk memenuhi standar internal, tetapi juga untuk mematuhi regulasi internasional seperti ISO/TS 16949, ISO 9001, dan standar OEM masingmasing. Analisa berikut meninjau elemenelemen penting dalam rangkaian kontrol kualitas, mengidentifikasi potensi risiko, serta memberikan rekomendasi perbaikan. Bahan baku utama adalah besi paduan (mis. 4340, 8620) atau baja khusus yang memiliki sifat kekerasan dan keuletan tinggi. Parameter yang harus diverifikasi antara lain: Proses penempaan mengubah billet menjadi bentuk kasar crank shaft. Pengendalian meliputi: Setelah penempaan, crank shaft diproses melalui turning, milling, dan grinding untuk membentuk bearing journal, web, serta oil holes. Penting untuk: Proses heat treatment (quenching & tempering) memberikan kekuatan tarik dan ketangguhan. Parameter kritis: Metode NDT yang umum dipakai: Pengujian ini meliputi: Proses coating (mis. phosphating, zinc plating) melindungi crank shaft dari korosi selama penyimpanan dan transportasi. Diagram alur mengidentifikasi titiktitik kontrol kritis (Critical Control Points CCP) pada setiap tahap produksi. Berikut contoh singkatnya: Berikut tabel ringkas FMEA pada tiga proses utama: Prioritas perbaikan difokuskan pada skor RPN >80, yaitu penempaan, machining, dan heat treatment. Penggunaan diagram kontrol Xbar dan R pada data dimensi journal menghasilkan center line yang stabil. Contoh nilai kontrol: Jika titik data menyentuh batas kontrol, tindakan korektif (mis. kalibrasi mesin turning) langsung diimplementasikan. Surface profilometer menghasilkan nilai Ra ratarata 0,68m dengan deviasi standar 0,07m, berada di dalam spesifikasi. Data ini dicatat dalam quality control plan dan dipantau mingguan. Audit internal dilakukan setiap kuartal, meliputi pemeriksaan dokumen proses, verifikasi kalibrasi alat, serta interview operator. Audit eksternal dari OEM dilakukan dua kali setahun untuk memastikan kepatuhan pada spesifikasi khusus. Pengendalian kualitas pada seksi M/C crank shaft memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan kontrol bahan baku, proses manufaktur terstandarisasi, serta pengujian NDT/DT yang konsisten. Analisa FMEA menunjukkan area kritis pada penempaan, machining, dan heat treatment, yang dapat diminimalisir dengan penerapan SPC, kalibrasi rutin, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Dengan mengintegrasikan sistem manajemen mutu ISO serta penggunaan teknologi inspeksi modern, perusahaan dapat mencapai tingkat scrap <0,5% dan meningkatkan kepercayaan pelanggan OEM. Implementasi rekomendasi di atas akan memperkuat posisi kompetitif dan memastikan bahwa setiap crank shaft yang diproduksi memenuhi standar performa dan keamanan tertinggi.Analisa Pengendalian Kualitas Produk Seksi M/C Crank Shaft
Latar Belakang
Proses Produksi Crank Shaft
1. Pemilihan Bahan Baku
2. Penempaan (Forging)
3. Pemotongan dan Pembentukan (Machining)
4. Heat Treatment
5. Pengujian NonDestruktif (NDT)
6. Pengujian Destruktif (DT)
7. Pelapisan dan Pelapisan AntiKorosi
Analisa Pengendalian Kualitas
2.1. Diagram Alur Kontrol (Flow Chart)
2.2. Analisis Risiko (FMEA)
Proses Mode Kegagalan Efek Severity (S) Occurrence (O) Detection (D) RPN Penempaan Retak panas Penurunan kekuatan, scrap 8 3 4 96 Machining Dimensi melebihi toleransi Vibrasi, keausan bearing 7 4 3 84 Heat Treatment Quench terlalu cepat Distorsi, retak 9 2 5 90 2.3. Metode Pengendalian Statistik (SPC)
2.4. Pengukuran Kualitas Permukaan
2.5. Audit Internal dan Eksternal
Rekomendasi Perbaikan
Kesimpulan
Referensi
