Demam rematik akut (DRA) atau acute rheumatic fever adalah penyakit inflamasi yang dapat terjadi setelah infeksi bakteri Streptococcus pyogenes, khususnya faringitis streptokokus. Penyakit ini terutama mempengaruhi anak-anak usia 5-15 tahun di negara berkembang dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung, kondisi yang dikenal sebagai penyakit jantung rematik. DRA merupakan masalah kesehatan signifikan di banyak negara berkembang dan tetap menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular pada anak-anak dan dewasa muda di dunia.
Fakta Penting: Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan lebih dari 33 juta orang menderita penyakit jantung rematik, dan 275.000 kematian terjadi setiap tahun akibat kondisi ini. Sekitar 80% dari populasi yang terkena hidup di negara berpendapatan rendah hingga menengah.
Demam rematik akut disebabkan oleh respons autoimun terhadap infeksi streptokokus grup A, biasanya faringitis streptokokus, bukan infeksi kulit atau impetigo. Bakteri ini menghasilkan protein M yang serupa dengan protein pada jaringan manusia, khususnya di jantung, sendi, otak, dan kulit. Ketika sistem kekebalan tubuh melawan infeksi streptokokus, hal ini secara tidak sengaja juga menyerang jaringan yang mengandung protein serupa, menyebabkan peradangan.
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian DRA meliputi:
Gejala demam rematik akut biasanya muncul 2-4 minggu setelah infeksi faringitis streptokokus yang tidak diobati atau tidak diobati secara memadai. Diagnosis DRA berdasarkan pada Kriteria Jones Terbaru, yang menggabungkan manifestasi klinis dengan bukti infeksi streptokokus sebelumnya.
Manifestasi utama (major criteria) meliputi:
| Manifestasi | Deskripsi |
|---|---|
| Karditis | Peradangan pada jantung yang dapat mempengaruhi endokardium, miokardium, atau perikardium. Tanda klinis termasuk murmur jantung baru, pembesaran jantung, gagal jantung kongestif, atau perikarditis. |
| Poliartritis | Peradangan pada beberapa sendi, biasanya sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki, siku, dan pergelangan tangan. Bersifat migrasi, yaitu berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya. |
| Chorea | Juga dikenal sebagai Chorea Sydenham, merupakan kelainan gerak involunter yang mempengaruhi otot wajah, ekstremitas, dan trunkus. Pada awalnya dapat menyebabkan ketidakstabilan emosional, iritabilitas, dan gangguan tidur. |
| Erythema marginatum | Rash merah muda non-gatal dengan tepi bergelombang yang biasanya muncul di batang dan ekstremitas. |
| Nodul subkutan | Benjolan keras tidak nyeri di bawah kulit, biasanya terletak di permukaan ekstensor sendi seperti siku, lutut, dan pergelangan tangan. |
Tanda Penting: Untuk mendiagnosis DRA definitif, pasien harus memiliki dua manifestation utama atau satu manifestasi utama ditambah dua manifestasi minor (seperti demam, arthralgia, kecepatan endap darah meningkat, atau perpanjangan interval PR pada EKG) bersama dengan bukti infeksi streptokokus sebelumnya.
Diagnosis demam rematik akut didasarkan pada kombinasi manifestasi klinis, bukti infeksi streptokokus sebelumnya, dan pengecualian diagnosis lain.
Untuk mengkonfirmasi infeksi streptokokus sebelumnya, dokter dapat melakukan:
Pemeriksaan tambahan mungkin meliputi:
Tujuan penanganan demam rematik akut meliputi:
Pengobatan standar untuk DRA melibatkan:
1. Terapi Antibiotik
Penicillin adalah pilihan utama untuk menghilangkan streptokokus grup A. Biasanya diberikan sebagai Benzathine penicillin G injeksi intramuskular tunggal atau penisilin oral selama 10 hari. Untuk pasien yang alergi penisilin, eritromisin dapat menjadi alternatif.
2. Terapi Antiinflamasi
Obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) seperti asam asetilsalisilat (aspirin) atau naproksen digunakan untuk mengurangi peradangan, terutama pada pasien dengan artritis. Dosis biasanya diberikan tinggi dan kemudian diturunkan secara bertahap saat gejala membaik.
Kortikosteroid seperti prednison dapat digunakan pada pasien dengan karditis berat atau gagal jantung. Dosis diberikan tinggi selama 2-3 minggu lalu dikurangi secara bertahap selama 2-4 minggu untuk mencegah rebound.
3. Penanganan Karditis
Pada pasien dengan karditis berat, pengobatan tambahan mungkin diperlukan, termasuk diuretika untuk mengurangi beban cairan, obat inotropik untuk meningkatkan kontraksi jantung, dan pembatasan aktivitas fisik untuk mengurangi beban pada jantung.
4. Penanganan Chorea
Untuk kasus chorea yang berat, obat seperti haloperidol, valproat, atau karbamazepin dapat digunakan. Teknik relaksasi dan lingkungan yang tenang juga membantu mengurangi gejala.
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer bertujuan mencegah episode awal DRA dengan pengobatan tepat waktu faringitis streptokokus. Pemberian antibiotik yang memadai untuk faringitis streptokokus secara signifikan mengurangi risiko DRA.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan mencegah kekambuhan DRA pada pasien yang sudah pernah mengalami episode sebelumnya. Profilaksis antibiotik jangka panjang direkomendasikan:
Benzathine penicillin G injeksi intramuskular setiap 4 minggu adalah pendekatan yang paling efektif untuk pencegahan sekunder. Alternatif lain termasuk penisilin oral harian atau eritromisin untuk pasien yang alergi penisilin.
Penting: Pencegahan sekunder sangat penting karena episode berulang DRA menimbulkan risiko penambahan kerusakan pada katup jantung, yang dapat menyebabkan penyakit jantung rematik progresif.
Komplikasi paling serius dari demam rematik akut adalah penyakit jantung rematik, yang terjadi pada 30-45% pasien dengan episode DRA awal. Kerusakan katup jantung, khususnya stenosis mitral atau regurgitasi, adalah manifestasi paling umum dari penyakit ini. Komplikasi lain dapat mencakup:
Ekstra-kardiak, komplikasi dapat mencakup gangguan gerak permanen akibat kerusakan otak, disfungsi kognitif, atau masalah psikologis.
Prognosis demam rematik akut bervariasi tergantung pada tingkat keparahan manifestasi kardiak dan kepatuhan terhadap profilaksis sekunder. Pasien tanpa karditis memiliki prognosis yang sangat baik dengan pemulihan lengkap tanpa kerusakan permanen. Sebaliknya, pasien dengan karditis berat, terutama mereka yang mengalami kardiakomegali atau gagal jantung, memiliki risiko lebih tinggi untuk kerusakan jantung permanen dan komplikasi jangka panjang.
Demam rematik akut adalah penyakit inflamasi yang dapat menyebabkan komplikasi serius, khususnya penyakit jantung rematik. Pengobatan yang memadai faringitis streptokokus adalah kunci untuk pencegahan primer, sementara profilaksis antibiotik jangka panjang sangat penting untuk mencegah kekambuhan pada pasien yang telah mengalami DRA. Peningkatan kesadaran tentang penyakit ini, diagnosis dini, dan pengobatan yang tepat waktu dapat mengurangi beban demam rematik akut dan penyakit jantung rematik di seluruh dunia.
Selain itu, pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter keluarga, spesialis kardiologi pediatrik, ahli penyakit infeksi, dan spesialis rehabilitasi diperlukan untuk penanganan komprehensif pasien dengan demam rematik akut, terutama mereka yang sudah mengalami komplikasi jantung.
